Ambisi Orang Tua Bisa Menggagalkan Anak Masuk Taruna, Ini Faktanya
Setiap tahun, ribuan calon taruna gugur bukan karena nilai akademik yang rendah, fisik yang kurang kuat, atau kecerdasan yang tidak memadai. Banyak dari mereka justru datang dengan persiapan lengkap. Namun, ada satu faktor yang jarang dibicarakan dan sering luput disadari: ambisi orang tua yang terlalu besar.
Dalam proses seleksi taruna, tekanan tidak selalu datang dari ruang ujian. Ia sering terbentuk jauh sebelumnya, di rumah, melalui tuntutan untuk “harus lolos”, harapan keluarga, dan bayangan kegagalan yang terus ditanamkan. Berbagai riset psikologi pendidikan menunjukkan bahwa tekanan semacam ini dapat mengganggu stabilitas emosi, menurunkan kepercayaan diri, dan membuat anak tampil tidak autentik—tiga hal yang sangat menentukan dalam seleksi taruna. Artikel ini membahas bagaimana ambisi orang tua, jika tidak dikelola dengan tepat, justru dapat menjadi penghalang terbesar anak untuk lolos menjadi taruna.
Tekanan Orang Tua dan Dampaknya pada Performa Anak
Dalam psikologi pendidikan, dikenal konsep achievement pressure—tekanan berprestasi yang berasal dari lingkungan terdekat, terutama orang tua. Studi dalam Journal of Adolescence menunjukkan bahwa remaja dengan tekanan prestasi tinggi dari keluarga cenderung mengalami kecemasan performa, respons stres berlebih, dan kesulitan mengambil keputusan secara mandiri.
Pada seleksi taruna, kondisi ini sangat berbahaya. Sistem seleksi taruna tidak hanya menguji kemampuan kognitif, tetapi juga ketenangan emosi, stabilitas mental, dan kemandirian sikap. Anak yang terlalu terbebani ekspektasi orang tua sering menunjukkan gejala:
- Jawaban wawancara terdengar “hafalan”
- Respons psikotes tidak konsisten
- Bahasa tubuh tegang dan defensif
- Ketergantungan pada arahan, bukan inisiatif
Kenapa Ambisi Orang Tua Mudah Terdeteksi Penguji?
Penguji taruna dilatih untuk membaca keaslian motivasi. Dalam wawancara, pertanyaan seperti “Mengapa ingin menjadi taruna?” atau “Siapa yang paling mendorong keputusan ini?” bukan pertanyaan formalitas.
Banyak peserta gugur bukan karena jawabannya salah, tetapi karena:
- Motivasi terdengar milik orang tua, bukan dirinya
- Tujuan hidup tidak personal
- Ada ketakutan berlebihan akan kegagalan
Penelitian seleksi militer dan sekolah berbasis kepemimpinan menunjukkan bahwa kandidat dengan intrinsic motivation (motivasi dari dalam diri) memiliki peluang lolos lebih tinggi dibanding yang didorong faktor eksternal seperti status sosial atau keinginan dan ambisi orang tua.
Pola Kesalahan Ambisi Orang Tua yang Paling Sering Terjadi
Berdasarkan evaluasi psikolog pendidikan dan konselor seleksi, ada beberapa pola ambisi orang tua yang tanpa sadar merugikan anak:
1. Menanamkan rasa “harus lolos” sejak dini
Anak tumbuh dengan keyakinan bahwa gagal bukan pilihan. Akibatnya, saat menghadapi tekanan tes, yang muncul bukan fokus, melainkan ketakutan.
2. Mengarahkan jawaban wawancara
Orang tua sering melatih anak dengan kalimat ideal versi dewasa. Padahal, penguji justru mencari kejujuran sesuai usia dan kematangan mental peserta.
3. Membandingkan dengan anak lain
Perbandingan meningkatkan kecemasan sosial dan menurunkan kepercayaan diri, dua hal yang sangat fatal dalam seleksi taruna.
Yang Dicari Seleksi Taruna Sebenarnya
Riset seleksi kepemimpinan menunjukkan bahwa institusi taruna lebih mengutamakan:
- Stabilitas emosi
- Kemampuan mengambil keputusan di bawah tekanan
- Tanggung jawab personal
- Kematangan sikap, bukan ambisi kosong
Artinya, anak yang didukung secara sehat—bukan ditekan—justru tampil lebih meyakinkan.
Peran Ideal Orang Tua dalam Persiapan Taruna
Orang tua berperan penting, tetapi bukan sebagai pengendali, melainkan pendamping. Dukungan yang efektif menurut psikologi perkembangan adalah:
- Membantu anak memahami proses, bukan menuntut hasil
- Menguatkan usaha, bukan hanya target
- Memberi ruang anak menentukan motivasinya sendiri
Dengan pola ini, anak datang ke seleksi sebagai individu utuh, bukan sebagai “proyek ambisi keluarga”.
Pada akhirnya, seleksi taruna bukanlah tentang seberapa besar ambisi orang tua, melainkan seberapa siap anak berdiri sebagai pribadi yang mandiri. Institusi taruna mencari calon yang tenang di bawah tekanan, jujur pada dirinya sendiri, dan mampu bertanggung jawab atas pilihannya—bukan mereka yang bergerak karena tuntutan atau ketakutan mengecewakan keluarga.
Ketika orang tua mampu mengubah peran dari penekan menjadi pendamping, dari pengarah menjadi penguat, di situlah anak memiliki ruang untuk tumbuh secara utuh. Ironisnya, justru dengan mengendurkan ambisi pribadi, orang tua memberi peluang terbesar bagi anak untuk benar-benar lolos seleksi taruna, bukan sekadar masuk, tetapi siap menjalaninya.



